6 Okt 2012

Cerita Penggiling Padi Keliling


"Assalamu'alikum. Sap, dateng kE ojok balE aoq, Eleran ke parE seberaq"[1] kata kakak saya dalam bahasa sasak sambil memegang handphone jadul miliknya. Artinya "Datang ke rumah ya, gilingin saya gabah sebentar" dan entah apa jawaban orang di seberang telpon sana.
Pagi ini jam masih menunjukkan pukul 06:20 saat percakapan singkat telpon itu ditutup, masih sangat pagi dan mataharipun masih malu-malu menampakkan dirinya. Saya sendiri baru saja balik dari mengantar adik kecil saya ke sekolah, adik cewek satu-satunya yang sekarang masih duduk di kelas satu SDN 5 Terara.

Pagi ini memang rencananya kakak saya mau ke pasar, karena itu semalem dia titip pesan lewat ibu agar saya keluar pagi-pagi ke rumahnya gantiin dia jualan sebentar sementara dia belum pulang dari pasar. Selang sehari biasanya kakak saya pergi ke pasar Paok Motong, pasar yang jaraknya sekitar 5km dari rumah, untuk berbelanja lauk pauk, sayur mayur, sembako dan berbagain keperluan untuk dijual kembali di kios mungil samping rumahnya. Mungkin karena itu dia memanggil Pak Sap, tukang giling padi keliling langganan yang hanya perlu ditelpon dan dia akan datang langsung ke depan rumah kita sepagi ini.

Penasaran pengen tau secantik apa wajah kakak saya?
Kakak cewek saya satu-satunya dan dia orang ketiga tercantik sedunia setelah ibu dan adik saya. Moga aja dia gak baca postingan saya kali ini, bisa-bisa di amuk saya gara-gara posisinya dia kalah sama adik kecil kami. ^_^.

Cewek ketiga tercantik sedunia, Namanya Herlaeli Susaeni.

Tak lama berselang, terdengar suara khas mesin penggiling padi berjalan. Seorang bapak-bapak yang masih muda duduk santai memegang setir "Mobil kehidupan" berwarna hijau tua. Dialah pak Sap yang tadi ditelpon kakak saya.

Pak Sap dan penggilingan padi kelilingnya.
Tak banyak kata dan bicara, hanya sesekali senyum terlihat mengembang dibibirnya, terkadang juga hanya wajah serius yang diperlihatkannya. Kakak ipar saya membantu mengeluarkan gabah yang hendak digiling.

Kakak saya dan suaminya Muhammad Toyib.
Setelah padi yang hendak digiling dikeluarkan, pak Sap langsung menimbangnya. 75 kg sekitar itu kalau saya tidak salah dengar. Uniknya timbangannya sangat berat namun dengan enteng saja pak Sap menaikkan dan menurunkannya dari atas penggilingan. Pekerja yang sangat kuat.

Baru kali ini saya memperhatikan dengan seksama proses penggilingan padi menggunakan penggilingan keliling ini. Sederhanya kira-kira bisa saya ceritakan seperti ini :
  1. Gabahnya di masukkan ke corong di bagian atas. 
  2. Karet penghubung mesin diesel yang sebelumnya terhubung dengan penggerak roda mobil ini dilepas dan mesin dieselnya disambungkan dengan mesin penggiling.
  3. Mesin penggiling mulai beroperasi dan beraspun keluar dari bagian belakang ( Lihat gambar di bawah).
  4. Tak cukup sekali proses, beras yang keluar masih belum bersih sempurna dan dimasukkan sekali lagi ke dalam mesin penggiling.
  5. Untuk menampung saat proses pertama, beras ditampung menggunakan bak, ada sekitar 5 buah bak besar yang selalu dibawa.
  6. Beras yang dimasukkan kembali untuk proses penggilingan padi keduua sudah bisa langsung ditampung dengan menggunakan karung dan proses penggilingan padi menggunakan penggilingan ajaib ini-pun selesai.
Proses penggilingan pertama, beras ditampung di bak dan akan digiling kembali masuk proses ke-2

Beras yang sudah selesai tahap ke-2 dan siap disimpan atau dimasak langsung.

Pak Sap menunggu semua beras selesai digiling.

Untuk pembayaran, ampas penggilingan berupa dedak juga bisa sekalian digunakan untuk membayar sehingga tidak perlu membayar terlalu banyak. Setelah dihitung hitung total yang harus dibayar kakak saya untuk menggiling gabah seberat 75kg adalah hanya Rp.7.000 setelah dipotong dengan harga dedaknya. Lebih hemat dan lebih murah jika dibandingkan menggunakan penggilingan permanen yang belum lagi ditambah biaya pengangkutan. Pantas saja kakak saya dan banyak warga lainnya lebih meilih menggunakan jasa penggilingan padi keliling ini.

Sedikit cerita dari bapak dan ibu saya saat mereka masih kecil, sekitar tahun 1975-an.
"Dulu, kalau kita mau menggiling gabah, kita harus berjalan sekitar 8km pulang perginya dan itu sambil memikul gabah yang sangat berat. Udah perjalanan jauh ditambah lagi beban berat" kata Bapak saya.
"Ha ha ha ha ha ha" saya hanya bisa tertawa mendengar cerita bapak saya.
"Makanya, kenapa bapak kecilnya pas jaman dulu, coba bapak lahirnya sekarang. Kan gak perlu capek-capek ngangkut gabah jauh-jauh kayak gitu" kata saya sambil cengengesan.
Cerita yang sama juga dituturkan ibu saya. "Ahh, mereka kan emang dulu tinggal dikampung yang sebelahan, jadi wajar kalau kisah kehidupannya juga tidak jauh berbeda" batin saya.


Kembali ke cerita tentang pak Sap, dia baru saja balik dari kampung sebelah timur rumah saya. Katanya dia tadi juga di telpon untuk menggiling padi di Keliwatanja. Selamat bekerja pak Sap. Moga rejekinya banyak hari ini. Penuh senyum dia menggeber mobil antik warna hijau tuanya itu menuju ke arah barat, entah kampung mana lagi yang akan disambanginya, dan entah berapa panggilan yang masuk ke nomer telponnya.



8 komentar:

  1. wah wah nice story mas brow...dan kayaknya nice tutorial juga, tutorial cara menggiling gabah....:D
    btw kerren ne mas Kangkung dalam menyampaikan cerita...mari kembangkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Apa bang Moerad qrad juga berkenan usaha penggilingan?

      Nanti saya jadi tukang gilingnya dah. Hehehe

      Hapus
  2. Wah, baru tahu saya ternyata ada penggiling padi keliling. Sayang dirumahku karena sudah dibilang kota gak ada seperti itu. Adanya sih kalau ke sawah. Jadi gak tahu cara menggiling padi menjadi beras itu bgmn ?.

    Setelah baca posting Mas Khaerul saya jadi tahu. Semoga rejekinya Pak Sap banyak. Aimn ... (/-,-\)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ane sih tinggalnya di kampung gan, rumah ane aja rumah mewah (Mepet sawah). Hehehe.

      Bentar lagi jadi kaya dah pak Sap gara-gara banyak yang do'ain.
      ^_^

      Hapus
  3. Nice brader. baru banget tau ada penggiling padi yang keliling keliling. Semangaaaaat Pak Sap *.*
    Bahasa sasak itu bahasa mana yaak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. TQ Ms. ASDF. :3

      Eaaa, ternyata Bahasa dan Suku Sasak gak dikenal.
      #Sedih, jedotin kepala ke tembok.

      Sasak itu suku Asli pulau Lombok Nusa Tenggara Barat mbak.

      Hapus
  4. mantap kali, tata cara menggiling gabah, jadi keinget calon mertua gua yg dulu hahahaha di banyuwangi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mertuanya Juragan penggilingan gabah ya bro?
      :D

      Hapus

Jalan-Jalan dan menikmati indahnya Alam (Air Terjun Jeruk Manis)

Latepost : Ini adalah dokumentasi beberapa tahun yang lalu, saat masih banyak yang imut-imut, dan sekarang berubah menjadi makin imut. R...